23 Aug 2016

Cara Membuat Ruffle atau Kerutan pada Kain

Buat kamu yang ingin tampil lebih feminim, penambahan aksen rempel atau ruffle sering digunakan untuk menghiasi berbagai model rok atau pakaian wanita. Nggak hanya itu, aksen ruffle atau kerutan ini juga sering ditambahkan sebagai pemanis pada mukena, jilbab maupun aksesoris lainnya yang berbahan dasar kain. Biarpun aku sudah manis, aku tetap suka loh pakai baju atau aksesoris yang berbau ruffle gitu. :p
 
Di dunia jahit menjahit, tentu kita harus mengetahui teknik cara menjahit kerutan pada kain. Dan ternyata, ada banyak cara untuk membuat jahitan kerutan ini, mulai dari menjahit manual menggunakan tangan, membuat trik jahitan dengan mesin jahit, bahkan dengan bantuan sepatu mesin jahit khusus untuk membuat kerutan atau ruffle.


Cara paling mudah dan praktis untuk menjahit kerutan sebenarnya adalah dengan memakai bantuan sepatu mesin jahit khusus yaitu gathering foot (sepatu kerut). Karena bukan sepatu mesin jahit yang biasa dipakai pada umumnya, dan biasanya tidak include pada saat pembelian mesin jahit, maka tidak semua orang mempunyai sepatu kerut ini.

Nah kali ini aku akan menunjukkan tips dan trik cara menjahit kerutan menggunakan mesin jahit dengan cara manual seperti yang kebanyakan orang lain lakukan. Buat kamu yang nggak punya gathering foot (ruffling foot), keempat cara di bawah ini bisa jadi alternatif pilihan untuk membuat kerutan rempel menggunakan mesin jahit. Dulu cara lama ini juga biasa aku lakukan sebelum aku membeli gathering foot.

Klik halaman berikutnya ( page 2 - 5 ) untuk melihat cara dan langkah membuat kerutan pada kain.

Page :
1 2 3 4 5
17:42 4 Comments

24 May 2016

Dibalik Nasi Pecel yang "Mahal"


Hari ini aku bersyukur, atas seijin Tuhan, aku dan suamiku telah dipertemukan dengan seseorang. Seorang ibu yang berhasil memberikan banyak pelajaran berharga padaku setelah bertemu dan sedikit berbincang-bincang dengannya tadi pagi.

Sebut saja namanya Bu Ana (*bukan nama sebenarnya, nama sengaja disamarkan demi menjaga privacy si ibu). Dulunya dia seorang guru paud. Dari kasak-kusuk yang aku tahu, dia dikenal memiliki kepribadian yang agak berbeda dari orang pada umumnya. Sebagian orang menganggapnya "rada-rada". Entah maksudnya rada lemot, rada (*maaf) kurang waras atau gimana.

Singkat cerita, selama mengajar ia sering mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari teman sesama profesinya, karena mungkin dianggap kurang berpotensi. Sehingga beliau keluar dari pekerjaannya. Hingga pada akhirnya, musibah pun datang silih berganti.

Kata beliau, suaminya sekarang keluar dari pekerjaannya. Tapi dari kasak kusuk yang terdengar, kabarnya si suami terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Subhanallah, jika memang gosip itu benar, sungguh mulianya seorang istri yang tidak mengeluhkan masalah yang sedang dihadapi suaminya bahkan menutupi kekurangan suaminya pada orang lain.

Ditambah lagi, sudah lama anaknya juga sedang mengalami penyakit yang cukup terbilang kronis. Dan lagi-lagi, ia tidak tampak mengeluhkan keadaannya.

"Saya juga kalo lagi di rumah sambil momong anak kok mbak", hanya itu ceritanya.
Bu Ana, terkadang papaku memanggil beliau bu haji. Ya bu haji/ hajah. Yang artinya beliau pernah pergi ke tanah suci untuk beribadah haji. (*Ini sih lupa-lupa ingat, suaminya aja yang berhaji atau barengan ama si ibu juga, tapi papaku kadang tetap panggil dia bu haji). Ibadah haji, yang menurut perintah agama Islam memang perlu dilaksanakan terutama bagi orang yang mampu.

Bu Ana, seorang mantan guru yang pernah kuliah itu, kini berdagang nasi pecel. Sambil mengayuh sepeda, nasi pecelnya ia jajakan setiap pagi keliling komplek dengan kakinya yang beralaskan sandal jepit. Ya sepeda ontel, bukan sepeda motor.

Berbekal nasi di dalam rantang yang dia taruh di keranjang depan sepedanya. Pilihan lauk pun hanya satu saja, tidak ada pilihan lain. Walaupun memang setiap hari ia menyajikan menu lauknya berbeda, entah itu bandeng presto, ikan panggang atau ayam. Ya, mungkin keterbatasan modal sehingga ia hanya bisa menyajikan satu menu saja. Lauk, bumbu pecel, sayur, dan daun pisang pembungkus nasi pecel ia taruh di kantong seperti kantong tas kurir barang yang terbuat dari karung yang disematkan di boncengan sepedanya.

Ia tetap terlihat tegar dan bersyukur dengan keadaannya yang sekarang. Keadaan yang mungkin sama sekali dia tidak pernah inginkan. Namun beliau jalani seolah tanpa beban dan tak pernah sedikitpun terlihat sedih atau mengeluh.

"Yang penting kerja halal ya mbak", katanya dengan senyumnya yang terlihat bangga. Oh andai ibu tahu, saya pun merasa sangat bangga bisa bertemu langsung denganmu.
Bahkan dalam keadaan yang mungkin bagi sebagian orang merasa Tuhan tidak pernah adil dengan apa yang terjadi pada kehidupannya, beliau dengan teguh masih setia beribadah berjamaah di masjid. Mengingat karuniaNya, bersyukur dengan semua rejeki yang telah diperoleh. Berdoa dan berkeluh kesah hanya padaNya. Pun ia juga rutin ikut pengajian di kompleks rumahnya. Terkadang juga dengan tulus ia memberi nasi pecel gratis untuk sang imam masjid.

Ya Tuhan, malu hati ini. MALU, karena sering mengeluh walau sedang menghadapi masalah kecil sekalipun. Malah kadang sampai ku update permasalahanku di status FBku. Pajang DP BBM yang ada sangkut pautnya dengan permasalahanku kalau lagi kesel biar semua orang pada tahu.

MALU, karena sering merasa Engkau tak adil dengan apa yang terjadi padaku, Tuhan. Seolah masalah datang bertubi-tubi hingga membuatku mengeluh "Ya Allah, masalah apa lagi ini, ya Allah..".

Sedangkan Bu Ana, yang masalahnya terlihat lebih rumit bahkan jauh lebih rumit daripada masalahku, tetap terlihat tenang menjalani hari-harinya. Seolah tak pernah ada yang perlu dikeluhkan dan disesali. Seolah ia sudah tahu bahwa roda pasti berputar, dan ia siap menghadapinya kapanpun Allah menghendaki.

Baru hari ini aku bisa bertemu langsung dengan beliau. Hari ini menu lauk nasi pecel beliau adalah ayam suwir. Nasi pecel yang sedap dan nikmat karena bumbunya dibikin sendiri. Dengan sayurnya yang khas, berisi tauge dan kembang turi. Nasi pecel yang harum karena terbungkus full dengan daun pisang. Beliau hargai hanya dengan Rp.7.000. Ya, harga yang terbilang cukup murah dengan porsi yang melimpah.


Tadi, aku beli dua bungkus saja, yang artinya aku harus membayar Rp.14.000,-. Kebetulan aku sedang mengantongi uang Rp.15,000,- dan kupakai untuk membayar nasi pecel si Ibu.

"Udah Bu kembaliannya nggak usah", kataku sambil menyodorkan uang pembayaranku.
Maksudku bilang begitu biar si Ibu nggak usah repot cari uang kembalian dan bisa langsung pulang, karena bumbu pecelnya juga udah habis. Meskipun sepintas kulihat nasi dan sayurnya masih ada. Dan tanpa disangka, seketika itu juga jawaban si Ibu Ana berhasil membuatku makin merinding.

"Eh enggak mbak, jangan", sahutnya.
"Nggak apa-apa bu", jawabku.
"Aduh jangan mbak nanti NGGAK BERKAH NGGAK HALAL, bentar saya ambilin kembaliannya yang seribu", kata Bu Ana.
Ya Allah, kesentil bangeeetttt ini hati. Duh Gusti, duit kembalian seribu rupiah yang udah ku ikhlasin nggak perlu pakai kembalian aja dia nggak mau terima. Benar-benar ia tolak, beliau takut nggak halal. Nah gimana dengan duit hasil nilep, hasil suap, hasil riba, hasil korupsi, dan kawan-kawannya?

Ya Allah, bersyukur banget bisa bertemu dengan ibu Ana. Ibu penjual nasi pecel yang "mahal" ini memberikan aku dan suamiku banyak pelajaran dan ilmu berharga walaupun bukan dari nasehatnya, melainkan dari perilaku dan tutur katanya. Nasi pecel yang terlihat sederhana yang berharga "murah", namun banyak tersimpan ilmu yang "mahal" di dalamnya.

Banyak sekali hikmah yang bisa aku petik dari pelajaran Bu Guru Ana. Melalui nasi pecelnya yang "mahal" ini, ia mengajarkanku betapa kita harus selalu bersyukur dengan apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh. Bagaimanapun keadaannya, tetap carilah rejeki yang halal dan barokah, jangan pernah berharap belas kasihan orang lain. Dan jangan lupa tetap berbagi dengan sesama walau dalam keadaan sempit sekalipun, walaupun kamu hanya bisa bersedekah sebungkus nasi pecel atau bahkan memberi bonus tambahan porsi berlebih untuk pelangganmu.

Meskipun hanya melalui sikapnya, ia seolah mengingatkanku bahwa semua yang terjadi di kehidupan kita ini adalah atas kehendakNya. Tuhan selalu punya maksud dan tujuan untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Walaupun mungkin dengan cara yang tidak pernah kita inginkan bahkan sekalipun tidak mampu kita pahami.

Terimakasih Ibu Ana, walaupun engkau tidak lagi menjadi seorang Guru, tapi engkau tetap bagaikan seorang Guru buatku. Perjuanganmu adalah inspirasiku. Walaupun orang-orang anggap engkau "lemot" atau apapun itu, namun aku tetap menganggapmu "orang hebat", karena aku belum tentu bisa setegar dirimu. Terimakasih telah membuatku menulis kisah ini sambil berkaca-kaca, bukan semata karena aku kasihan kepadamu. Melainkan karena aku sangat malu pada diriku sendiri. Terimakasih Tuhan, karena engkau kirimkan Ibu Ana kepadaku hari ini, untuk menyentil diriku agar selalu ingat padaMu.

Engkau memang bukan lagi seorang guru, tapi bisa jadi ini memang kehendakNya. Karena mungkin Tuhan tahu bahwa engkau tidak layak jika menjadi seorang guru Paud. Engkau lebih layak mengelola rumah makan/restoran milikmu suatu saat nanti, karena masakanmu sangat enak. Apalagi dibuatnya dengan penuh cinta dan rasa syukur.

Aku percaya tidak ada kerja keras yang sia-sia. ALLAH akan hadirkan pelangi setelah hujan dan badai.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Alam Nasyroh: 5-6)
Semoga ibu sekeluarga selalu diberi kesehatan dan Allah bukakan pintu rejeki yang selebar-lebarnya. Aamiiinnn....

16:10 11 Comments

27 Apr 2016

Semur Njamur

Hai hai, kalau biasanya aku share tentang yang berbau craft atau menjahit, kali ini kita rehat sejenak ya. Lagi laper nih, jadi pindah ke dapur dulu. Enaknya makan apa ya?

Hmm, mendung-mendung begini kayaknya makan semur enak juga kali ya. Tapi semur kan identik dengan daging atau jengkol. Cuma aku orangnya kurang suka ama yang berbau-bau daging gitu kalau nggak lagi kepingin banget, jengkol pun juga nggak doyan. Jadi aku mau bikin semur yang rada beda nih. Kebetulan di kulkas ada stok jamur tiram. Hemm gimana kalau jamur tiram ini dimasak dengan bumbu semur. Sudah ada yang pernah cobain belum? ;)




Porsi :
  Untuk 2-3 orang

Bahan yang dibutuhkan :
  - 1 bungkus jamur tiram, suwir-suwir ukuran sedang
  - 2 potong tahu, potong memanjang kira-kira 1x1x3cm
  - 1 buah kentang, kupas dan potong dadu (*optional)
  - 1 batang daun seledri, cincang
  - ½ sdt pala bubuk
  - 2 sdm kecap manis (atau sesuai selera)
  - garam, secukupnya
  - merica, secukupnya
  - bawang goreng, secukupnya
  - kaldu daging sapi, secukupnya (*optional)
  - air, secukupnya
  - minyak goreng, secukupnya

Bumbu halus :
  - 2 siung bawang merah
  - 2 siung bawang putih
  - 2 buah cabe merah besar
  - 1 buah kemiri


Cara memasak :
1. Goreng tahu yang sudah dipotong hingga matang, tiriskan.
2. Siapkan wajan sedang, tumis bumbu yang sudah dihaluskan hingga baunya harum.
3. Tuang wajan dengan kaldu daging sapi. Tambahkan air sesuai selera banyaknya kuah semur yang diinginkan. Masak hingga mendidih.
4. Masukkan tahu dan kentang.
5. Masukkan garam, merica, pala dan kecap, aduk hingga rata.
6. Setelah kentang agak matang, masukkan jamur tiram.
7. Taburkan seledri dan bawang goreng secukupnya, lalu cicipi rasanya. Semakin banyak taburan bawang goreng, akan semakin enak rasanya.
8. Masak hingga jamur matang, jangan terlalu layu.





Yumm, semur jamur tiram siap disajikan besama dengan nasi putih selagi hangat. Yang bikin unik dari rasanya adalah ada khas dari aroma jamur tiramnya. Menu semur njamur ini juga cocok banget nih jadi alternatif menu masakan buat kamu yang vegetarian. Selamat mencoba ya.

Happy cooking.. ^^

16:50 1 Comment

23 Apr 2016

Cara Memasang Juntai pada Bros



Setelah belajar cara membuat juntai anggur di sini, sekarang aku akan membahas cara memasangnya pada bros. Nah biasanya, untuk memasang juntai seperti untuk anting-anting, gantungan, aksesoris pelengkap untuk bandul kalung, atau aksesoris yang berbahan dasar logam, cara pasangnya sih tinggal dikaitkan aja di hook(pengait) atau lubang yang tersedia.

Lalu gimana dong dengan bros yang berbahan kain atau pita. Kira-kira gimana yah cara masangnya biar bisa kuat? Hmm, yuk ah langsung aja kita belajar bareng-bareng yuk. ;)

Siapkan bros dan juntai yang akan dipasang. Siapkan pula jarum jahit dan benang jahit. Lebih baik lagi jika memakai benang jahit polyester atau benang nilon agar lebih kuat.


Kali ini benang yang aku pakai adalah benang jahit polyester. Benangnya aku rangkap dua. Dan buat simpul di ujung benang yang telah dimasukkan ke dalam jarum. Sematkan benang di bagian belakang bros, atur letaknya sesuai posisi juntai yang diinginkan.


Masukkan jarum ke dalam lubang ring juntai hingga menempel pada pangkal benang di bros. Atur posisi juntai seperti yang diinginkan. Pastikan posisi ring supaya celah ring (tempat pembuka ring) berada dibagian atas. Fungsinya agar celah ini tertutup jahitan, sehingga tidak mudah terbuka.


Lalu jahit ring ke alas bros dengan cara menyematkan jarum dari arah ring bagian atas dan memasuki alas bros kemudian menuju ke bagian tengah ring. Tarik benangnya hingga ring bagian atas terikat rapat oleh benang.


Ulangi proses yang sama dengan cara menyematkan kembali jarum jahit ke sebelah jahitan yang sebelumnya. Ulangi hingga dirasa cukup kuat untuk menahan juntai seperti gambar di bawah ini.


Jika selesai, tutup bagian belakang bros dengan alas bros agar jahitan tertutup (terlihat rapi) dan jangan lupa untuk memasang peniti bros. Lihat di sini untuk cara memasang peniti pada bros. Kalau seperti yang sedang aku buat (lihat gambar di bawah), bagian belakang brosnya langsung aku tutup pakai peniti mangkok /peniti bulat. Tempelkan dengan lem tembak (hot glue). Seperti ini nih!


Nah udah kece kan bros juntainya? Hayuk capcuz langsung pakai buat piknik dulu. See yaa... ^^


12:01 No Comments

19 Apr 2016

Menghias Mukena dengan Flanel

Mau tampil beda dari mukena polos yang kamu pakai selama ini? Banyak banget cara untuk makeover mukena polos biar makin kelihatan cantik. Selain menghias mukena polos dengan sulam pita, mukena lama kamu bisa juga dihias dengan kain flanel.


Emang sih yang paling penting adalah ibadahnya, nggak peduli seberapa bagus dan mahalnya mukena yang kita pakai. Tapi nggak ada salahnya juga kan kalau mukena lama kita dimakeover biar tampil beda dari biasanya. Yah hitung-hitung selain agar ibadahnya makin semangat, juga sambil melatih jemari kita ini untuk berkreasi agar makin terampil dan kreatif. ;)

Seperti yang akan aku lakukan kali ini. Kebetulan tangan aku juga lagi gatel pengen ngerjain sesuatu. Yaudah deh, kali ini giliran mukena polos ini yang jadi sasarannya. Biar kelihatan sedikit unyu-unyu tapi nggak lebay, si mukena polos ini mau aku tempelin dengan potongan flanel di beberapa bagian. Sejauh yang aku tahu, teknik ini disebut dengan "applique atau sulam tempel". 


Selain kain flanel, bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah perlengkapan menjahit seperti benang, jarum dan gunting. Kali ini aku nggak akan menyulam secara manual tapi menggunakan mesin jahit. Karena bahan utama yang aku pakai adalah kain flanel, tentu saja cara pembuatannya lebih mudah daripada membuat sulam perca yang mana kita harus ekstra hati-hati agar tiras kain dapat tertutup rapi.  

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah tentukan pola yang akan dibuat. Gambar dulu saja di kertas. Kalian bisa berkespresi sesuai selera masing-masing. Aku memakai motif bunga yang sederhana seperti ini. 

Gunting pola kertas setelah pola selesai dibuat. Lalu duplikat pada kain flanel, dan potong kain flanel sesuai pola. Buat beberapa sesuai jumlah yang diinginkan. Kemudian tentukan letak sulam flanel pada mukena. Tandai mukena dengan pensil atau jarum pentul. Atau aplikasi flanel yang sudah dipotong tadi bisa langsung dipasang (ditempelkan) di mukena dan sematkan dengan jarum pentul. Usahakan posisinya simetris untuk bagian kanan dan kiri badan pada mukena.

( klik pada gambar untuk memperbesar )

potongan aplikasi flanel yang sudah ditata dan ditempel pada mukena
Jika dirasa posisi flanel sudah pas, lanjutkan untuk menjahit atau menyulam. Tidak seperti sulam perca/flanel pada umumnya yang menggunakan tusuk feston untuk menyulam pinggiran perca ke kain, kali ini aku hanya menggunakan jahitan lurus saja menggunakan mesin jahit. Karena pinggiran kain flanel tidak bertiras (berserabut) *orang Jawa bilangnya njrawut* sehingga tidak masalah jika pinggiran kain flanel tidak ditutupi / disembunyikan. Sebenarnya sih biar cepat selesai dan nggak terlalu ribet juga bikinnya. Hehehe, maklum namanya juga masih belajar. :p

Pertama, aku jahit dulu di bagian tengah bunga dan sekaligus menindas kelopak bunga. Di sini aku sedikit bermain bentuk jahitan yaitu mengikuti garis bermotif zigzag. Caranya sama seperti menjahit lurus biasa, tinggal mengikuti alur garis seperti pada gambar. 

Lalu jahit bagian tepi kelopak. jahit dengan mengikuti bentuk tepi kelopak. Beri jarak 1,5 - 2mm dari tepi flanel. Nah saat menjahit di bagian ini memang harus super hati-hati dan pelan-pelan biar hasilnya bisa rapi. Memang agak susah sih kalau pakai sepatu mesin jahit standar saat menjahit tikungan.

Langkah selanjutnya adalah membuat tangkai bunga. Gambar dulu pola bentuk tangkai bunga pada mukena dengan pensil atau kapur jahit. Lepas dulu bagian daunnya biar nggak mengganggu saat proses menjahit. Lalu jahit mengikuti pola (gambar). Aku memakai pola jahitan zigzag dengan jarak benang yang rapat. Jadi hasil jahitannya seperti di bordir.

Langkah terakhir adalah memasang daunnya. Jahit lurus saja di bagian tengah daun seperti bagian tengah tulang daun. Dan selesai. Ulangi lagi prosesnya pada aplikasi yang lain hingga semua aplikasi terpasang di mukena.


Hasilnya bakalan seperti foto di atas ini. Mukena lama aku jadi makin cantik dan girly yah. Cara ini bisa jadi alternatif juga buat para pemula yang kepingin untuk menghias mukena lama milik kita. Karena cara membuatnya pun juga sangat mudah dan cepat banget.

Happy sewing ya.. ^^

14:31 No Comments